Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Bicara Langsung


Kali ini,  biarkan aku bicara langsung pada jiwamu: tanpa sekat, tanpa batas, tanpa tedeng. Untuk menanyakan apa-apa yang khawatir telah kusalahartikan. Tentang siapa merindukan siapa. Tentang siapa mengharapkan apa. Adakah kata ‘saling’ terkandung? Atau adakah hukum aksi-rekasi berlaku secara positif disana?


Kau pernah mendengar cerita tentang orang-orang yang dibuali perasaannya sendiri? Ada buncahan suka disana, yang nanti––secara teratur atau tiba-tiba—–akan disadari, bahwa itu semua telah menenggelamkan jiwa mereka dalam kesemuan. Merasakan apa-apa yang sebenarnya tak pernah ada. Atau mungkin ada, tapi tak sebesar itu. Lalu, atas nama rasa malunya pada diri sendiri, perasaan yang tidak pernah tahu apa-apa itu di bunuh. Mati lalu dikubur. Tapi tahukan kamu, bahkan semua reaksi sederhana itu tak semudah saat dituliskan?


Jadi, biarkan aku bicara langsung pada jiwamu, tanpa kau halang-halangi dengan ekspresi kecilmu atau celotehan, bahkan celetukan ringanmu itu. Meski harus  kuakui aku menyukainya: kata-kata lugu yang kau rangkai tanpa pretensi, kau cuap seolah tanpa motif, tapi memikat. Aku perlu tahu, tapi aku tak butuh mulutmu untuk berkata-kata. Hanya ingin jiwamu yang berbicara.


Ya, aku perlu tahu

Sebelum aku mati tenggelam dalam kepenasaranan ini

Meski tak selamanya pengetahuan tentangmu membuatku nyaman

Aku hanya takut salah

Jadi, apa kamu juga ingin bicara pada jiwaku?

Penuh Tanya


Tidak perlu sebuah prosesi belah dada untuk percaya apa yang ku rasa

Tiada pula perlu kuucap sumpah serapah untuk membuat semua terlihat nyata

Kini semua tak sudah tak lagi samar, bukan?

Mari

Mari mendekat

Bukankah telah sejak lama aroma kerinduan ini merebak hebat?

Dan kau masih saja pura-pura tak menciumnya

Mengapa kenaifan itu terus kau pelihara?

Mengapa?

pukul sekian

pukul sekian.
malam semakin dini.
malam begitu diam.
kita telah saling terkunci.
pada pikiran masing-masing.
di sepi yang begitu kaku.
tak ada suara.
hanya debar yang lelah dan kepal yang mencoba mengekalkanmu.
Namun, tampaknya usaha tersebut gagal.
Ia memuntahkannya melalui pengakuan.
ah..sudahlah..
aku terlanjur jatuh.
dan aku menikmati setiap detiknya.
dan pada akhirnya.
pada malam yang tak lagi menawarkan bunyi dan bulan yang mengatung dengan memelas,
ada seseorang yang terus mengagumkan kau.
maafkan aku,
di malamku,
kau tak mengenal hari libur.
sama sekali, sayang.

oktober resah

oktober resah. ada puisi gemetar dan menyerumu dengan terbata. ditemani hujan yang telah terpecah, dan kini kita tak lagi mengucap doa yang sama.
semua jadi entah, katamu.
ketika pada akhirnya aku hanya bisa memungut serpihan perasaan pada remang senja dan senyuman kecilmu di tepi jurang yang menganga. ia menungguku meloncat dan menghempaskanmu pada dasar hati ini.
memanggil namamu dalam diamku.
menyebut namamu dalam senyapku.
sunyiku.
sepiku.
rapuhku.
pikirku.
ka(m)u.

Demi subuh

Demi subuh yang tumbuh dan pagi yang merangkak,
maka biarkan aku mereguk kenikmatan dari sebuah sunyi.
Sembari mencandu sebuah karunia.

Terlalu larut

Maaf, aku menuliskanmu terlalu larut.
Karena tadi sore aku terlalu sibuk. Menceritakanmu pada awan yang berarak disenja hari menuju gelap.

Daun diatas bukit



"Biarkan aku menjadi daun di atas bukit 
Mereguk sisa kesunyian diantara puing-puing anginmu 
Menabrak rindu yang ada di gunung batumu 
Mengunyah serpihan sepi yang kau tinggalkan disini
Iya, disini..

Ingatkah engkau, bahwa kita pernah berjumpa pada perjalanan menuju sebuah episode perpisahan?
Semoga engkau tetap mengingatnya
Dan aku yang masih (akan) terus mengingatnya
Yang terus menanti pahatan aksaramu
Juga lembutnya sentuhmu
Disini..
Di puncak bukit kesunyian dan kegelisahan
Yang tak tahu kapan kau akan sentuh.
Luruh.
Diselimuti awan bergemuruh."



Depok
-Luthfia-
22 Juni 2014

Memperbudak Waktu

Kalau aku bisa memperbudak waktu, 
Aku akan... 

Menghentikannya kala bahagia 
Melewatkannnya di saat duka 
Mengurai secara perlahan memori-memori manis yang telah di jemput waktu

Bisu

Kau ingin tahu bagaimana caranya lupa bicara? 
Jadilah aku.
Lalu, tatap matamu dalam-dalam di sepersekian waktu.

Aku melenguh.
Membisu bak patung 
Dihadapanmu

Senyum Sumringah

Ada senyum sumringah yang ku unduh dengan sukacita 
Diantara nada-nada dan doa-doa 
Berkejaran 
Melayang 
Terbang 

Menuju sesosok manusia 
bernama engkau,
Sayang

Jangan Singkirkan Mereka

“Jangan singkirkan mereka”

Senyum tulusmu takkan redup
Masih sama seperti kemarin,
masih sanggup
Melawan nasibmu kini
Sebagai mantan penderita kusta

Kulit-kulit keriput itu
Tangan-tangan lumpuh itu
Jari-jari yang bengkok yang kian merapuhkanmu itu
Takkan sanggup lagi melumpuhkan asamu
Tak ada yang salah dengan asamu

Ketika nilai, norma dan sikap tak lagi dijunjung tinggi bagi mereka
Pembagian kerja yang tidak adil Kesenjangan dijunjung megah
Ketika marginalisasi terjadi
Hak mereka untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan layak harus terhalang oleh keadaan fisiknya, disabilitasnya
Haruskah kita seperti itu?
Acuh dengan mereka?
Menganggap mereka sampah masyarakat?
Atau bahkan membuang mereka?
Menganggap ketidakadilan ini wajar?

Dimana nurani kalian, wahai manusia?

Jangan
Singkirkan
Mereka

Sepertinya aku jatuh

sepertinya aku jatuh
pada redupnya matamu

sepertinya aku jatuh
pada sayupnya kilasmu

sepertinya aku jatuh
pada matamu yang kian berderu
menyorakan keteduhan dirimu

sepertinya aku jatuh,

karenamu

Rinduku Padamu

Pelangi putih kelam di langit senja
Ku maknai rajutan warna dengan tungalnya
Hanya karna bias ada warna
Namun putihlah dasarnya

Langit kelam yang terang mewarnai angkasa
Temaram bintang seperti manik-maik membingkai awan
Kelipan kesunyian
Pijaran dalam diam
Helaan napas panjang yang tertahan

Ku mulai sesuatu dari awal
Namun berakhir ditengah-tengah
Melafaskan a tanpa mencapai z
Menghitung yang tak berhingga
Namun tak sanggup rasanya

Kutipan asmara yang tersimpan
Peliknya perasaan yang tak mengudara
Namun mengendap tak sempat menguap
Kejujuran harga yang sangat mahal
Namun dustalah kemudahan

Tak dapat ku bohongi lagi hati ini
Jikau aku dirundung sunyi
Semua ini terasa sepi
Saat daun mulai bernyanyi
Hati ini pun perlahan mati

Tak mampu ku beranjak
Tak kuasa aku menolak
Sebuah rasa datang dengan tiba-tiba
Namun ia pergi tanpa berita

Ku genggam erat air
Namun meleleh jua ia
Ku gapai udara yang mengalir
Namun hawa sajalah yang terasa

Air muka mu menceritakan segalanya
Cukup pandangan matamu memberi jawaban
Tak perlu kau ungkapkan akupun sudah tau semuanya
Cukup batinku yang menyisakan ratapan

Untukmu kasih yang ku cinta
Untukmu raga yang ku damba
Melepasmu dari jiwa

Asa yang tertahan

Sebentar lagi
Aku akan lenyap di telan riuhnya kata yang tak terucap
Bergelimang pada setiap kata yang tertahan oleh senyap
Yang memporak-porandakan pikiran yang semerawut oleh asa yang tertahan
Entah tak ku tahu apa itu namanya 
Mungkin sebuah kerapuhan yang indah 
Atau ketakberdayaan mengungkap apa yang tersingkap
Atau ketakutan berwajah pengharapan
Sehingga ia mati didalam kepala
tanpa pengakuan
tanpa pengungkapan
tanpa pengucapan
tanpa keberanian






Yang Mengingatkan: Sebuah Petang

29 November 2013 Petang itu...

Petang itu, senja akan pergi. Hal tersebut pertanda bahwa aku akan segera berangkat. Menyelesaikan tanggung jawabku.
Senja itu, ku rasakan hangatnya jabatmu, yang diikuti dengan lambaian tanganmu yang kian menjauh. Kau kan pulang, dan aku yang kan berangkat pergi. Kau ingat? Sebelum berangkat, kita saling bercerita.
Aku rasa, aku punya rasa, tapi aku tak tahu bahwa kau perasa atau tidak.

Pada senja yang singkat itu, aku diliputi resah. Seperti anak kecil yang merindu timangan ibu. Aku merengek pada hati kecilku, yang terlalu bernafsu untuk menatapmu ketika kau tidak menoleh ke arahku. Berharap...matamu melihat mataku.
Aku hanya tersenyum, meninggalkanmu di Pusgiwa UI,
Sore itu.

***

Malam itu, suasana bus begitu bising. Semua kawan saling bercanda dan bersahut. Namun, bayangku masih tentangmu.
Tentang kamu yang sore tadi menemaniku sejenak.
Entahlah.....
Kemudian suaramu menjadi makhluk halus yang berinang di kepalaku. Lalu, satu demi satu adegan-adegan yang telah lama berlalu kembali muncul. Mendobrak dadaku yang berkarat.

Aku terdiam.
Mencoba menahan asa yang kan meledak.

Menyeruak.

Memberontak.

Tak mengelak.

"Aku ingin kamu,
dengan kamu,
hari yang baru,
dengan hembuaan angin yang terus menderu,
dengan kicauan burung pada gagahnya langit yang biru,
lantas...
Harus dengan apa aku bahasakan kamu?
Bahkan, seluruh sajak dan puisiku tak akan mampu menggambarkanmu."

Fatamorgana Senja

Meraba senja diiringi derasnya hujan, sore ini.
Menanti malam menyambut jingga yang kan menjadi gelap.

Di penghujung hari, ku lihat fatamorgana yang memaksaku untuk mengejarnya.
Meraihnya.
Dan ia menyeretku untuk terus berlari.
Memaksaku berlari hingga aku tak lagi
Berpijak dengan kaki yang renta ini.

Fatamorgana senja tersebut tuliskan bait-bait rasa.
Menumpahkan seisinya ke dalam kertas putih tak berdosa.
Biarlah..Fatamorgana itu berlalu bersama senja merah jingga.
Memberiku jalan agar tak terus mengejarnya.

Dan ku nanti esok paginya.
Ketika cakrawala menyambut mentari di timur fajar.
Kau bukanlah fatamorganaku lagi.
Semua sudah terpencar.
Bubar.
Lenyap ditelan fajar.

Menyalahkan diri, sendiri

Semilir angin malam masuk menerpa rambutku melalui jendela. Jangkrik bersahutan seakan mereka meneriakan suara terakhirnya. Mataku tertuju pada langit-langit malam tanpa bintang.
Kosong.
Hampa.
Tanpa makna.
Dingin.
Menusuk.
Menembus rusuk.
Sunyi.
Sepi.
Sendiri.

Dan aku terus menyalahkan diri sendiri yang tidak bisa berubah dan tetap patuh pada suatu prinsip yang harus mengorbankan orang lain yang ku sayangi. Entah seberapa rumit pikiran ini, seperti tali kaset yang ruwet dan amburadul karena terlalu cepat berputar.
memencar.
menyebar.
Begitu riuh.
jauh.
tak tersentuh.
angkuh.

lagu lama

dia bernyanyi
dengan memetik senar gitar
dibawah redup temaram sinar
menangkap makna dibalik lirik
gemuruh hati takkan terhindari
hebat getar menentang pedih

lagu lama itu
membawa ingatan berkarat ke dalam pikiran
berlari. berujar-ujaran
bagai roll film yang menghadirkan memori lama
namun, kenangan manis itu telah tiada.
binasa.
punah.
mati. meringkih ditelan sunyi.

senyap saja hatinya kini
laksana pohon bertelanjang daun
tegak menjulang menantang matahari
yang menggerogoti tubuhnya, kini.

Aku Memikirkanmu Sesekali

Aku memikirkanmu sesekali,
Kala rumput melambai dengan hempasan angin pada pendar cahaya senja.
Aku memikirkanmu sesekali,
Kala kicauan burung menghempaskanku pada aroma senja.
Aku memikirkanmu sesekali,
Kala setangkai mawar gugur pada kilauan lelehan senja.
Aku memikirkanmu sesekali,
Dikala petang.

Di Jarimu

Di permukaan mataku kau menuliskan luka, lalu kau memaksa bibirku yang sedang kau lumat dengan ucapan perpisahan membacanya kata demi kata. Kita begitu fasih menghancurkan pilihan dan tak pernah tahu bagaimana cara mengembalikan.

Sementara airmata sibuk mencari jalan pulang, takdir melingkar tenang dijarimu serupa kegagalan yang memaksa untuk diingat. Aku tak mampu menulis ditanganmu sebab sebuah genggam tak cukup menahan puluhan bencana kepergian. Kita begitu hafal cara saling menemukan tapi tak pernah paham bagaimana cara bertahan.

Di dadamu ada tulisan yang tak pernah selesai. Tentang rindu yang lumpuh di tengah jalan dan cinta yang mekar di tempat lain. Jauh dari yang tak akan kembali. Jauh dari yang tak pernah kembali.