Kali ini, biarkan aku bicara langsung pada jiwamu: tanpa sekat, tanpa batas, tanpa tedeng. Untuk menanyakan apa-apa yang khawatir telah kusalahartikan. Tentang siapa merindukan siapa. Tentang siapa mengharapkan apa. Adakah kata ‘saling’ terkandung? Atau adakah hukum aksi-rekasi berlaku secara positif disana?
Kau pernah mendengar cerita tentang orang-orang yang dibuali perasaannya sendiri? Ada buncahan suka disana, yang nanti––secara teratur atau tiba-tiba—–akan disadari, bahwa itu semua telah menenggelamkan jiwa mereka dalam kesemuan. Merasakan apa-apa yang sebenarnya tak pernah ada. Atau mungkin ada, tapi tak sebesar itu. Lalu, atas nama rasa malunya pada diri sendiri, perasaan yang tidak pernah tahu apa-apa itu di bunuh. Mati lalu dikubur. Tapi tahukan kamu, bahkan semua reaksi sederhana itu tak semudah saat dituliskan?
Jadi, biarkan aku bicara langsung pada jiwamu, tanpa kau halang-halangi dengan ekspresi kecilmu atau celotehan, bahkan celetukan ringanmu itu. Meski harus kuakui aku menyukainya: kata-kata lugu yang kau rangkai tanpa pretensi, kau cuap seolah tanpa motif, tapi memikat. Aku perlu tahu, tapi aku tak butuh mulutmu untuk berkata-kata. Hanya ingin jiwamu yang berbicara.
Ya, aku perlu tahu
Sebelum aku mati tenggelam dalam kepenasaranan ini
Meski tak selamanya pengetahuan tentangmu membuatku nyaman
Aku hanya takut salah
Jadi, apa kamu juga ingin bicara pada jiwaku?
Kau pernah mendengar cerita tentang orang-orang yang dibuali perasaannya sendiri? Ada buncahan suka disana, yang nanti––secara teratur atau tiba-tiba—–akan disadari, bahwa itu semua telah menenggelamkan jiwa mereka dalam kesemuan. Merasakan apa-apa yang sebenarnya tak pernah ada. Atau mungkin ada, tapi tak sebesar itu. Lalu, atas nama rasa malunya pada diri sendiri, perasaan yang tidak pernah tahu apa-apa itu di bunuh. Mati lalu dikubur. Tapi tahukan kamu, bahkan semua reaksi sederhana itu tak semudah saat dituliskan?
Jadi, biarkan aku bicara langsung pada jiwamu, tanpa kau halang-halangi dengan ekspresi kecilmu atau celotehan, bahkan celetukan ringanmu itu. Meski harus kuakui aku menyukainya: kata-kata lugu yang kau rangkai tanpa pretensi, kau cuap seolah tanpa motif, tapi memikat. Aku perlu tahu, tapi aku tak butuh mulutmu untuk berkata-kata. Hanya ingin jiwamu yang berbicara.
Ya, aku perlu tahu
Sebelum aku mati tenggelam dalam kepenasaranan ini
Meski tak selamanya pengetahuan tentangmu membuatku nyaman
Aku hanya takut salah
Jadi, apa kamu juga ingin bicara pada jiwaku?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar