oktober resah

oktober resah. ada puisi gemetar dan menyerumu dengan terbata. ditemani hujan yang telah terpecah, dan kini kita tak lagi mengucap doa yang sama.
semua jadi entah, katamu.
ketika pada akhirnya aku hanya bisa memungut serpihan perasaan pada remang senja dan senyuman kecilmu di tepi jurang yang menganga. ia menungguku meloncat dan menghempaskanmu pada dasar hati ini.
memanggil namamu dalam diamku.
menyebut namamu dalam senyapku.
sunyiku.
sepiku.
rapuhku.
pikirku.
ka(m)u.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar