lagu lama

dia bernyanyi
dengan memetik senar gitar
dibawah redup temaram sinar
menangkap makna dibalik lirik
gemuruh hati takkan terhindari
hebat getar menentang pedih

lagu lama itu
membawa ingatan berkarat ke dalam pikiran
berlari. berujar-ujaran
bagai roll film yang menghadirkan memori lama
namun, kenangan manis itu telah tiada.
binasa.
punah.
mati. meringkih ditelan sunyi.

senyap saja hatinya kini
laksana pohon bertelanjang daun
tegak menjulang menantang matahari
yang menggerogoti tubuhnya, kini.

Aku Memikirkanmu Sesekali

Aku memikirkanmu sesekali,
Kala rumput melambai dengan hempasan angin pada pendar cahaya senja.
Aku memikirkanmu sesekali,
Kala kicauan burung menghempaskanku pada aroma senja.
Aku memikirkanmu sesekali,
Kala setangkai mawar gugur pada kilauan lelehan senja.
Aku memikirkanmu sesekali,
Dikala petang.

Di Jarimu

Di permukaan mataku kau menuliskan luka, lalu kau memaksa bibirku yang sedang kau lumat dengan ucapan perpisahan membacanya kata demi kata. Kita begitu fasih menghancurkan pilihan dan tak pernah tahu bagaimana cara mengembalikan.

Sementara airmata sibuk mencari jalan pulang, takdir melingkar tenang dijarimu serupa kegagalan yang memaksa untuk diingat. Aku tak mampu menulis ditanganmu sebab sebuah genggam tak cukup menahan puluhan bencana kepergian. Kita begitu hafal cara saling menemukan tapi tak pernah paham bagaimana cara bertahan.

Di dadamu ada tulisan yang tak pernah selesai. Tentang rindu yang lumpuh di tengah jalan dan cinta yang mekar di tempat lain. Jauh dari yang tak akan kembali. Jauh dari yang tak pernah kembali.