Epilog

Kemudian suaramu menjadi gema dan seluruh kenangan berubah menjadi makhluk halus yang berinang dan beranak ditelapak kakiku. Kau tak sekalipun melihat ke belakang serupa mataku yang enggan melepas bayang punggungmu. Mungkin sebuah andai hanya akan mengirim kita ke masa lalu tapi bukankah itu yang diinginkan setiap hati yang rusak?

Lalu satu demi satu adegan mendobrak dadaku yang lapuk dan berkarat. Kau duduk diam di satu sudut membiarkan semuanya berlalu dengan cepat seakan ingatan hanya seorang figuran dan perpisahan adalah skenario yang tak perlu dicatat.

Sempatkah kau berpaling sebentar dan menjawab dengan apa aku harus melarikan diri. Menyusun cerita buruk yang lain lagi?

Biarkan Aku Membiarkanmu..


Pergilah, kau. 
Hidup ini terlalu singkat jika kau hanya menunggu.
Bukan, bukan aku tak menyayangimu, tapi aku akan membiarkanmu mencari bahagia lain. Mencari sesosok manusia yang lebih baik dari aku. Biarkan aku membiarkanmu pergi.. 


Biarkan aku membiarkanmu pergi..  


Biarkan aku......

Pada Senja Yang Basah


Semilir angin berhembus membawa aroma embun.
Ku yakin aroma itu membius siapapun.
Dan membawa ia kedalam ingatan berkarat.
Yang mungkin bermakna namun sangat melekat.
Dihati orang yang mencintai cintanya hingga sekarat.
Begitu tersirat namun jatuh pada orang yang tepat.


Pada senja yang basah ia selipkan doa.
Berharap doa-doanya kan terlaksana.
Bak mencapai titik puncak yang tinggi,
Ia rela berdoa sampai ia mati.
Karna hanya itu yang bisa ia lakukan.
Melihat seorang yang dicinta telah berbahagia karna telah memilih diantara pilihan.
Ia rela. Ia sengsara, namun ia bak api membara.
Dukungannya tak kenal lelah.
Meskipun ia harus mundur dan mengalah.
Demi kebahagiaan seseorang yang ia damba.
Karna cinta adalah pengorbanan tiada tara.