Yang Mengingatkan: Sebuah Petang

29 November 2013 Petang itu...

Petang itu, senja akan pergi. Hal tersebut pertanda bahwa aku akan segera berangkat. Menyelesaikan tanggung jawabku.
Senja itu, ku rasakan hangatnya jabatmu, yang diikuti dengan lambaian tanganmu yang kian menjauh. Kau kan pulang, dan aku yang kan berangkat pergi. Kau ingat? Sebelum berangkat, kita saling bercerita.
Aku rasa, aku punya rasa, tapi aku tak tahu bahwa kau perasa atau tidak.

Pada senja yang singkat itu, aku diliputi resah. Seperti anak kecil yang merindu timangan ibu. Aku merengek pada hati kecilku, yang terlalu bernafsu untuk menatapmu ketika kau tidak menoleh ke arahku. Berharap...matamu melihat mataku.
Aku hanya tersenyum, meninggalkanmu di Pusgiwa UI,
Sore itu.

***

Malam itu, suasana bus begitu bising. Semua kawan saling bercanda dan bersahut. Namun, bayangku masih tentangmu.
Tentang kamu yang sore tadi menemaniku sejenak.
Entahlah.....
Kemudian suaramu menjadi makhluk halus yang berinang di kepalaku. Lalu, satu demi satu adegan-adegan yang telah lama berlalu kembali muncul. Mendobrak dadaku yang berkarat.

Aku terdiam.
Mencoba menahan asa yang kan meledak.

Menyeruak.

Memberontak.

Tak mengelak.

"Aku ingin kamu,
dengan kamu,
hari yang baru,
dengan hembuaan angin yang terus menderu,
dengan kicauan burung pada gagahnya langit yang biru,
lantas...
Harus dengan apa aku bahasakan kamu?
Bahkan, seluruh sajak dan puisiku tak akan mampu menggambarkanmu."

Fatamorgana Senja

Meraba senja diiringi derasnya hujan, sore ini.
Menanti malam menyambut jingga yang kan menjadi gelap.

Di penghujung hari, ku lihat fatamorgana yang memaksaku untuk mengejarnya.
Meraihnya.
Dan ia menyeretku untuk terus berlari.
Memaksaku berlari hingga aku tak lagi
Berpijak dengan kaki yang renta ini.

Fatamorgana senja tersebut tuliskan bait-bait rasa.
Menumpahkan seisinya ke dalam kertas putih tak berdosa.
Biarlah..Fatamorgana itu berlalu bersama senja merah jingga.
Memberiku jalan agar tak terus mengejarnya.

Dan ku nanti esok paginya.
Ketika cakrawala menyambut mentari di timur fajar.
Kau bukanlah fatamorganaku lagi.
Semua sudah terpencar.
Bubar.
Lenyap ditelan fajar.

Menyalahkan diri, sendiri

Semilir angin malam masuk menerpa rambutku melalui jendela. Jangkrik bersahutan seakan mereka meneriakan suara terakhirnya. Mataku tertuju pada langit-langit malam tanpa bintang.
Kosong.
Hampa.
Tanpa makna.
Dingin.
Menusuk.
Menembus rusuk.
Sunyi.
Sepi.
Sendiri.

Dan aku terus menyalahkan diri sendiri yang tidak bisa berubah dan tetap patuh pada suatu prinsip yang harus mengorbankan orang lain yang ku sayangi. Entah seberapa rumit pikiran ini, seperti tali kaset yang ruwet dan amburadul karena terlalu cepat berputar.
memencar.
menyebar.
Begitu riuh.
jauh.
tak tersentuh.
angkuh.