pukul sekian.
malam semakin dini.
malam begitu diam.
kita telah saling terkunci.
pada pikiran masing-masing.
di sepi yang begitu kaku.
tak ada suara.
hanya debar yang lelah dan kepal yang mencoba mengekalkanmu.
Namun, tampaknya usaha tersebut gagal.
Ia memuntahkannya melalui pengakuan.
ah..sudahlah..
aku terlanjur jatuh.
dan aku menikmati setiap detiknya.
dan pada akhirnya.
pada malam yang tak lagi menawarkan bunyi dan bulan yang mengatung dengan memelas,
ada seseorang yang terus mengagumkan kau.
maafkan aku,
di malamku,
kau tak mengenal hari libur.
sama sekali, sayang.
malam semakin dini.
malam begitu diam.
kita telah saling terkunci.
pada pikiran masing-masing.
di sepi yang begitu kaku.
tak ada suara.
hanya debar yang lelah dan kepal yang mencoba mengekalkanmu.
Namun, tampaknya usaha tersebut gagal.
Ia memuntahkannya melalui pengakuan.
ah..sudahlah..
aku terlanjur jatuh.
dan aku menikmati setiap detiknya.
dan pada akhirnya.
pada malam yang tak lagi menawarkan bunyi dan bulan yang mengatung dengan memelas,
ada seseorang yang terus mengagumkan kau.
maafkan aku,
di malamku,
kau tak mengenal hari libur.
sama sekali, sayang.