pukul sekian

pukul sekian.
malam semakin dini.
malam begitu diam.
kita telah saling terkunci.
pada pikiran masing-masing.
di sepi yang begitu kaku.
tak ada suara.
hanya debar yang lelah dan kepal yang mencoba mengekalkanmu.
Namun, tampaknya usaha tersebut gagal.
Ia memuntahkannya melalui pengakuan.
ah..sudahlah..
aku terlanjur jatuh.
dan aku menikmati setiap detiknya.
dan pada akhirnya.
pada malam yang tak lagi menawarkan bunyi dan bulan yang mengatung dengan memelas,
ada seseorang yang terus mengagumkan kau.
maafkan aku,
di malamku,
kau tak mengenal hari libur.
sama sekali, sayang.

oktober resah

oktober resah. ada puisi gemetar dan menyerumu dengan terbata. ditemani hujan yang telah terpecah, dan kini kita tak lagi mengucap doa yang sama.
semua jadi entah, katamu.
ketika pada akhirnya aku hanya bisa memungut serpihan perasaan pada remang senja dan senyuman kecilmu di tepi jurang yang menganga. ia menungguku meloncat dan menghempaskanmu pada dasar hati ini.
memanggil namamu dalam diamku.
menyebut namamu dalam senyapku.
sunyiku.
sepiku.
rapuhku.
pikirku.
ka(m)u.