pukul sekian

pukul sekian.
malam semakin dini.
malam begitu diam.
kita telah saling terkunci.
pada pikiran masing-masing.
di sepi yang begitu kaku.
tak ada suara.
hanya debar yang lelah dan kepal yang mencoba mengekalkanmu.
Namun, tampaknya usaha tersebut gagal.
Ia memuntahkannya melalui pengakuan.
ah..sudahlah..
aku terlanjur jatuh.
dan aku menikmati setiap detiknya.
dan pada akhirnya.
pada malam yang tak lagi menawarkan bunyi dan bulan yang mengatung dengan memelas,
ada seseorang yang terus mengagumkan kau.
maafkan aku,
di malamku,
kau tak mengenal hari libur.
sama sekali, sayang.

oktober resah

oktober resah. ada puisi gemetar dan menyerumu dengan terbata. ditemani hujan yang telah terpecah, dan kini kita tak lagi mengucap doa yang sama.
semua jadi entah, katamu.
ketika pada akhirnya aku hanya bisa memungut serpihan perasaan pada remang senja dan senyuman kecilmu di tepi jurang yang menganga. ia menungguku meloncat dan menghempaskanmu pada dasar hati ini.
memanggil namamu dalam diamku.
menyebut namamu dalam senyapku.
sunyiku.
sepiku.
rapuhku.
pikirku.
ka(m)u.

Demi subuh

Demi subuh yang tumbuh dan pagi yang merangkak,
maka biarkan aku mereguk kenikmatan dari sebuah sunyi.
Sembari mencandu sebuah karunia.

Terlalu larut

Maaf, aku menuliskanmu terlalu larut.
Karena tadi sore aku terlalu sibuk. Menceritakanmu pada awan yang berarak disenja hari menuju gelap.

Daun diatas bukit



"Biarkan aku menjadi daun di atas bukit 
Mereguk sisa kesunyian diantara puing-puing anginmu 
Menabrak rindu yang ada di gunung batumu 
Mengunyah serpihan sepi yang kau tinggalkan disini
Iya, disini..

Ingatkah engkau, bahwa kita pernah berjumpa pada perjalanan menuju sebuah episode perpisahan?
Semoga engkau tetap mengingatnya
Dan aku yang masih (akan) terus mengingatnya
Yang terus menanti pahatan aksaramu
Juga lembutnya sentuhmu
Disini..
Di puncak bukit kesunyian dan kegelisahan
Yang tak tahu kapan kau akan sentuh.
Luruh.
Diselimuti awan bergemuruh."



Depok
-Luthfia-
22 Juni 2014

Jatuh Cinta Pada Sikunir

Pengalaman yang sangat menakjubkan pada 21 Juni 2014. Di Bukit Sikunir, Wonosobo, Jawa Tengah. Konon katanya, Sikunir ini merupakan salah satu tempat untuk ngelihat sunrise terbaik di Asia Tenggara. Gue berhasil memfoto momen-momen (yang menurut gue romantis) tersebut dari kamera smartphone gue yang berukuran 2 MP ini. Dari belum terbit, sampai dengan terbit. Such a lovely picture!!! Check this out!






Gue

Gue dan Kadep Sosmas BEM FISIP UI 2014 (Amel)

Di atas awan

Salah satu foto favorit gue. BAGUS BANGET!!






Barisan pohon tanpa daun.

Lagit di fajar hari

Matahari udah naik 




Selfie :3










Foto gue dengan gaya siluet

Salah satu foto favorit gue di Sikunir





Memperbudak Waktu

Kalau aku bisa memperbudak waktu, 
Aku akan... 

Menghentikannya kala bahagia 
Melewatkannnya di saat duka 
Mengurai secara perlahan memori-memori manis yang telah di jemput waktu

Bisu

Kau ingin tahu bagaimana caranya lupa bicara? 
Jadilah aku.
Lalu, tatap matamu dalam-dalam di sepersekian waktu.

Aku melenguh.
Membisu bak patung 
Dihadapanmu

Senyum Sumringah

Ada senyum sumringah yang ku unduh dengan sukacita 
Diantara nada-nada dan doa-doa 
Berkejaran 
Melayang 
Terbang 

Menuju sesosok manusia 
bernama engkau,
Sayang

Jangan Singkirkan Mereka

“Jangan singkirkan mereka”

Senyum tulusmu takkan redup
Masih sama seperti kemarin,
masih sanggup
Melawan nasibmu kini
Sebagai mantan penderita kusta

Kulit-kulit keriput itu
Tangan-tangan lumpuh itu
Jari-jari yang bengkok yang kian merapuhkanmu itu
Takkan sanggup lagi melumpuhkan asamu
Tak ada yang salah dengan asamu

Ketika nilai, norma dan sikap tak lagi dijunjung tinggi bagi mereka
Pembagian kerja yang tidak adil Kesenjangan dijunjung megah
Ketika marginalisasi terjadi
Hak mereka untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan layak harus terhalang oleh keadaan fisiknya, disabilitasnya
Haruskah kita seperti itu?
Acuh dengan mereka?
Menganggap mereka sampah masyarakat?
Atau bahkan membuang mereka?
Menganggap ketidakadilan ini wajar?

Dimana nurani kalian, wahai manusia?

Jangan
Singkirkan
Mereka

Sepertinya aku jatuh

sepertinya aku jatuh
pada redupnya matamu

sepertinya aku jatuh
pada sayupnya kilasmu

sepertinya aku jatuh
pada matamu yang kian berderu
menyorakan keteduhan dirimu

sepertinya aku jatuh,

karenamu

Rinduku Padamu

Pelangi putih kelam di langit senja
Ku maknai rajutan warna dengan tungalnya
Hanya karna bias ada warna
Namun putihlah dasarnya

Langit kelam yang terang mewarnai angkasa
Temaram bintang seperti manik-maik membingkai awan
Kelipan kesunyian
Pijaran dalam diam
Helaan napas panjang yang tertahan

Ku mulai sesuatu dari awal
Namun berakhir ditengah-tengah
Melafaskan a tanpa mencapai z
Menghitung yang tak berhingga
Namun tak sanggup rasanya

Kutipan asmara yang tersimpan
Peliknya perasaan yang tak mengudara
Namun mengendap tak sempat menguap
Kejujuran harga yang sangat mahal
Namun dustalah kemudahan

Tak dapat ku bohongi lagi hati ini
Jikau aku dirundung sunyi
Semua ini terasa sepi
Saat daun mulai bernyanyi
Hati ini pun perlahan mati

Tak mampu ku beranjak
Tak kuasa aku menolak
Sebuah rasa datang dengan tiba-tiba
Namun ia pergi tanpa berita

Ku genggam erat air
Namun meleleh jua ia
Ku gapai udara yang mengalir
Namun hawa sajalah yang terasa

Air muka mu menceritakan segalanya
Cukup pandangan matamu memberi jawaban
Tak perlu kau ungkapkan akupun sudah tau semuanya
Cukup batinku yang menyisakan ratapan

Untukmu kasih yang ku cinta
Untukmu raga yang ku damba
Melepasmu dari jiwa

Asa yang tertahan

Sebentar lagi
Aku akan lenyap di telan riuhnya kata yang tak terucap
Bergelimang pada setiap kata yang tertahan oleh senyap
Yang memporak-porandakan pikiran yang semerawut oleh asa yang tertahan
Entah tak ku tahu apa itu namanya 
Mungkin sebuah kerapuhan yang indah 
Atau ketakberdayaan mengungkap apa yang tersingkap
Atau ketakutan berwajah pengharapan
Sehingga ia mati didalam kepala
tanpa pengakuan
tanpa pengungkapan
tanpa pengucapan
tanpa keberanian