Di Jarimu

Di permukaan mataku kau menuliskan luka, lalu kau memaksa bibirku yang sedang kau lumat dengan ucapan perpisahan membacanya kata demi kata. Kita begitu fasih menghancurkan pilihan dan tak pernah tahu bagaimana cara mengembalikan.

Sementara airmata sibuk mencari jalan pulang, takdir melingkar tenang dijarimu serupa kegagalan yang memaksa untuk diingat. Aku tak mampu menulis ditanganmu sebab sebuah genggam tak cukup menahan puluhan bencana kepergian. Kita begitu hafal cara saling menemukan tapi tak pernah paham bagaimana cara bertahan.

Di dadamu ada tulisan yang tak pernah selesai. Tentang rindu yang lumpuh di tengah jalan dan cinta yang mekar di tempat lain. Jauh dari yang tak akan kembali. Jauh dari yang tak pernah kembali.

Epilog

Kemudian suaramu menjadi gema dan seluruh kenangan berubah menjadi makhluk halus yang berinang dan beranak ditelapak kakiku. Kau tak sekalipun melihat ke belakang serupa mataku yang enggan melepas bayang punggungmu. Mungkin sebuah andai hanya akan mengirim kita ke masa lalu tapi bukankah itu yang diinginkan setiap hati yang rusak?

Lalu satu demi satu adegan mendobrak dadaku yang lapuk dan berkarat. Kau duduk diam di satu sudut membiarkan semuanya berlalu dengan cepat seakan ingatan hanya seorang figuran dan perpisahan adalah skenario yang tak perlu dicatat.

Sempatkah kau berpaling sebentar dan menjawab dengan apa aku harus melarikan diri. Menyusun cerita buruk yang lain lagi?

Biarkan Aku Membiarkanmu..


Pergilah, kau. 
Hidup ini terlalu singkat jika kau hanya menunggu.
Bukan, bukan aku tak menyayangimu, tapi aku akan membiarkanmu mencari bahagia lain. Mencari sesosok manusia yang lebih baik dari aku. Biarkan aku membiarkanmu pergi.. 


Biarkan aku membiarkanmu pergi..  


Biarkan aku......